
Hola berjumpa kembali di situs webjadidui.blogspot.com , pada sesi ini penulis akan melakukan pembahasan mengenai "Kisah Pertempuran di Hari Raya Idul Fitri, TNI Tembak Mati Pemimpin DI/TII | merdeka.com" dengan jelas, ayo simak selengkapnya ...
Kahar Muzakkar. ©2019 Merdeka.com
Merdeka.com - Di perkotaan dengan desa-desa bahana takbir bergema mengiringi Hari Raya Idul Fitri. Namun tidak bagi para prajurit yang bertugas di tengah belantara Sulawesi kala itu.
Tepat pada 3 Februari 1965, pasukan melakukan pengisolasian di sebuah hutan Sulawesi dekat Sungai Lasolo. Perintah operasi penyergapan ini dilakukan oleh Asisten Operasi dengan Asisten Intelijen di bawah pimpinan Kolonel Inf Solichin GP dengan diberi asma Operasi Kilat. Targetnya menangkap bernapas alias aub Kahar Muzakar, Imam Republik Persatuan Islam Indonesia, cuilan dari Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) yang telah berbalik muka 14 tahun melawan pemerintah.
Pengepungan dilakukan dengan akal tapal kuda, langkah ini dilakukan buat mencegah Kahar Muzakkar kabur. Dalam agenda ini, sejumlah unit pasukan dari Yonif 330/Para Kujang I pimpinan Mayor Yogie S Memed digerakkan menuju lokasi, 4 kompi Kujang I ditugasi menyisir Sektor B dari selatan dengan tenggara. Sedang Peleton 1 Kompi D pimpinan Peltu Umar Sumarsana berada di Sektor B.
Kehadiran Pasukan Kujang dari Siliwangi ini memang diminta khusus oleh Panglima Kodam Hassanudin Kolonel M Jusuf. Pasukan Siliwangi lebih dahulu menduga menangkap Kartosoewirjo, Imam Besar DI/TII di Jawa Barat dengan memutuskan pemberontakan selagi belasan tahun itu. Sebagai Kepala Staf Operasi Kilat ditunjuk Kolonel Solichin GP, seorang perwira senior dari Siliwangi.
Kolonel Solichin GP memanfaatkan akal yang sama dengan saat mengalahkan DI/TII di Jawa Barat. Dia benar-benar percaya simpati rakyat bisa direbut atas kerusakan yang ditimbulkan Kahar Muzakkar sama dengan Kartosoewirdjo di Jawa Barat. Rakyat tak mendukung mengatur lagi atas seringnya gerombolan ini melakukan aksi teror. Walau sedemikian itu ajek saja ada jumlah perubahan strategi di lapangan atas anak buah Kahar memiliki kemampuan tempur dengan persenjataan yang bertambah baik.
Namun satu hal yang membuat Pasukan Siliwangi bisa diterima oleh Rakyat Sulawesi adalah atas pembawaan alamiah mereka. Anggota pasukan ini dikenal berpegang teguh salat berjamaah dengan berkumpul di mushola bersama warga desa. Hal ini cocok dengan kegaliban bangsa selingkung yang religius. Banyak warga yang sadar dengan meninggalkan kelompok DI/TII.
1 dari 3 halaman
Pasukan TNI Makan Daun

Sejak tahun 1964, perburuan pada Kahar Muzakkar bahkan gencar. Namun faktor sulitnya menembus belantara hutan Sulawesi menjadi penghalang pasukan TNI menangkap Kahar. Walau sedemikian itu posisinya bahkan lemah atas banyak abdi yang menyerah. Termasuk istri Kahar yang bernama Andi Rawe.
Pada Januari 1965, tim RPKAD menangkap seorang perwira kepercayaan Kahar. Dia mengungkap Kahar berada di sekitar Sungai Lasolo.
Mayor Yogie S Memet mendiktekan pasukannya bergerak. Salah satunya adalah Peleton 1 Kompi D pimpinan Peltu Umar yang dari beralih dari 27 Januari 1965. Pasukan ini hanya dibekali logistik buat empat hari. Seharusnya telah kembali ke markas mengatur copot 31 Januari. Namun Peltu Umar menemukan petunjuk baru, dengan mematahkan terus beralih mengejar Kahar. Karena logistik telah habis, pasukan terdesak makan dedaunan buat bertahan hidup.
Upaya mengatur menyusuri Sungai Lasolo tidak sia-sia. Tanggal 1 Februari 1965, mengatur menangkap menteri kesehatan RPII dengan sejumlah simpatisan Kahar Muzakkar. Pasukan bahkan benar-benar percaya posisi Kahar telah dekat.
Tanggal 2 Februari, pasukan Siliwangi membesuk seorang memanfaatkan rakit dengan membawa senjata. Pengintaian membawa mengatur ke sebuah tempat dengan jumlah bivak alias tempat berlindung di tengah hutan. Namun Peltu Umar meminta anak buahnya tak bergerak.
Dia kemudian mengoordinasikan pasukannya buat mengepung dengan menutup jalur pelarian. Umar benar-benar percaya target mengatur adalah Kahar Muzakkar setelah mendengar sayup-sayup lagu 'Kenang-kenangan' yang merupakan lagu kegemaran Kahar.
2 dari 3 halaman
Pertempuran di Hari Raya
Album Kenangan Kodam Siliwangi
Tanggal 3 Februari 1965 dini hari, tepat di yaum Raya Idul Fitri, Peltu Umar mendiktekan 30 prajuritnya menyebelah sungai. Sementara empat orang prajurit berjaga di seberang batang air mencegah cikar melarikan diri.
Saat matahari dari terbit, Kopral Satu Ili Sadeli mendengar bahana radio di balik lindungan pepohonan, dirinya lantas arah-arah pangkal bahana tersebut. Dari informasi saat itu, Kahar melarang warga yang berada di daerah kekuasaannya memiliki sebuah radio, kecuali dirinya sendiri. Suara tersebut kelihatan berasal dari sebuah rumah.
Saat arah-arah bangunan itu, Sadeli memergoki seseorang yang cukup keluar dari bangunan sembari membawa tas. Saat berpapasan, pria tersebut berikhtiar kabur, secara reflek Sadeli melepaskan tiga tembakan dari bedil Thompsonnya dengan lelaki itupun (jatuh) menggelangsar di tanah.
Saat diperiksa, laki-laki ini kelihatan memanfaatkan jam tangan bermerek Titus, terselip pulpen Pelican di balik kantong bajunya. Selain Titus dengan Pelican, Sadeli menemukan uang tunai sebesar Rp 65.000, jumlah yang amat besar saat itu. Dia dari sadar, laki-laki ini adalah Kahar Muzakkar, buronan paling dicari oleh pemerintah.
Segera setelah memeriksanya, Sadeli segera melaporkan hasilnya ke pusat komando. Mayat Kahar lantas dibawa helikopter menuju buat identifikasi. Untuk memastikannya, TNI AD hanya mengizinkan istri dengan kedua anaknya buat membesuk mayatnya secara langsung, dengan kejelasan ini didapat dari putranya Abdullah.
3 dari 3 halaman
Dikenali dari Gigi Emas dengan Celana Dalam

Panglima Kodam Hasanuddin Kolonel M Jusuf mempersilakan warga yang ingin membesuk jenazah Kahar Muzakkar. Dia memastikan yang tewas benar-benar adalah Kahar. Selain wajah, Kahar bisa dikenali lewat tiga ciri penting.
Pertama adalah tahi lalat, lalu geraham emas dengan celana di yang dibordir dengan inisial KM. Dari informasi yang didapat Jusuf, Kahar tak amuh memanfaatkan sembarang celana di kecuali yang dibordir oleh istri keempatnya.
Setelah warga melihat, Jenazah Kahar terus dikubur di lokasi yang sangat dirahasiakan, tak seorang pula yang tahu lokasinya, termasuk keluarganya sendiri. M Jusuf tak sempat amuh menceritakan di mana jenazah Kahar dimakamkan. Rahasia ini terkubur saat M Jusuf yang kelak menjadi Panglima TNI berlalu tahun 2004. [ian]
Baca juga:
Begitulah pembahasan "Kisah Pertempuran di Hari Raya Idul Fitri, TNI Tembak Mati Pemimpin DI/TII | merdeka.com" terima kasih atas kunjungannya
konten ini dikelompokkan ke dalam kategori Hari Besar TNI, daftar hari besar tni, hari raya tni,
konten ini bersumber dari https://www.merdeka.com/peristiwa/kisah-pertempuran-di-hari-raya-idul-fitri-tni-tembak-mati-pemimpin-ditii.html

Tidak ada komentar:
Posting Komentar