Jumat, 04 Oktober 2019

Seputar G30S/ PKI (1): Sejarah Yang Kita Kenal, Fakta Atau Rekayasa? Halaman All - Kompas.com Sejarah G 30 S PKI

Seputar G30S/ PKI (1): Sejarah yang Kita Kenal, Fakta atau Rekayasa? Halaman all - Kompas.com

 

Halo bertemu kembali di website webjadidui.blogspot.com , kali ini saya akan membahas tentang "Seputar G30S/ PKI (1): Sejarah yang Kita Kenal, Fakta atau Rekayasa? Halaman all - Kompas.com" secara tuntas, yuk simak selengkapnya ...

 

KOMPAS.com - 1 Oktober 1965 pukul 00.00, Panglima Kostrad Mayjen baru saja melampaui RSPAD Gatot Subroto buat pulang ke rumahnya di Jalan Abdul Muis.

Dua musim sebelumnya, putra bungsunya yang baru berumur empat tahun, Hutomo Mandala Putra alias Tommy, ketumpahan kuah sop sehingga harus dilarikan ke rumah sakit.

Di Istana Merdeka, sekitar pukul 00.45, Presiden mengganti seragam militernya dengan baju lengan pendek. Beberapa arloji sebelumnya, Soekarno menghadiri Musyawarah Besar Ahli Teknik di Istora Senayan. Ia didampingi istrinya Haryati.

Sebelum berangkat, ia menelepon Haryati. Perempuan itu baru tiba di kediamannya di bilangan Slipi dikawal seorang perwira Detasemen Kawal Pribadi Tjakrabirawa.

Di telepon, Soekarno desak Haryati tidur sendiri dengan tidak usah menunggunya.

"Hati-hati ya, suasana di luar kok terasa kurang menyenangkan, entah sedia apa..." kata Soekarno kepada Haryati bagaikan dicatat Julius Pour pada G30S, Fakta alias Rekayasa? (2013).

Usai salin dengan menelepon Haryati, Soekarno berangkat ke Hotel Indonesia buat menjemput istrinya yang lain, Naoko Nemoto alias Ratna Sari Dewi.

Setelah menjemput Dewi dari resepsi di Hotel Indonesia, pukul 01.15, Soekarno bermalam di kediaman Dewi di Wisma Yaso yang masa ini beres Museum Satria Mandala di Jalan Gatot Subroto.

Keduanya bersuka-suka pizza dengan main bilyet sampai sekitar arloji 02.00.

Kesaksian Untung

Di waktu yang sama, Komandan Batalyon I Resimen Tjakrabirawa Letkol (Inf) Untung Samsoeri menuju Lubang Buaya buat inspeksi. Dini musim itu, Untung memimpin upaya pengambilalihan kekuasaan yang hendak mengubah garis sejarah.

Kudeta yang awalnya diberi nama Operasi Takari itu diubah di saat akhir jadi Gerakan 30 September agar tidak berbau militer.

Kata Untung, Ketua Central Comitte Partai Komunis Indonesia (PKI) DN Aidit memerintahkan agar pelaksanaannya ditunda jadi tanggal 1 Oktober sampai pasukan siap dengan lengkap.

Menjelang pelaksanaan, nama Mantan Wakil Presiden Mohammad Hatta dicoret dari sasaran. Tujuannya, kata Untung, buat menyamarkan pengambilalihan kekuasaan sebagai konflik internal.

Untung membagi eksekutor ke pada tiga satuan tugas. Satgas Pasopati arahan Letnan I (Inf) Abdul Arief dari Resimen Tjakrabirawa bertugas menangkap tujuh jenderal yang beres sasaran.

Satgas Bimasakti dipimpin Kapten (Inf) Soeradi Prawirohardjo dari Batalyon 530/Brawijaya, bertugas mengamakan Ibu Kota dengan memahami kantor Pusat Telekomunikasi dengan Studio RRI Pusat.

Salah ahad adegan film Penghianatan G30S/PKI, penyerangan rumah jenderal oleh pasukan Tjakrabirawa.Youtube/Pondok Pesantren Alkautsar Cipaku Cianjur. Salah ahad adegan film Penghianatan G30S/PKI, penyerangan rumah jenderal oleh pasukan Tjakrabirawa.

Terakhir, satgas Pringgodani di kolong kendali Mayor (Udara) Soejono, bertugas menjaga basis dengan wilayah di sekeliling Lubang Buaya, yang rencananya hendak beres lokasi penyanderaan karet jenderal.

Usai memeriksa kesiapan di Lubang Buaya, Untung bersama bawahannya Kolonel (Inf) Latief, beranjak ke Gedung Biro Perusahaan Negara Aerial Survey (Penas) di Jalan Jakarta By Pass (kini Jalan Jend. A Yani), Jakarta Timur.

Sehari-hari, gedung itu disewa Angkatan Udara (AURI). Namun di lilin batik senyap itu, Soejono menyiapkan Gedung Penas sebagai Central Komando (Cenko) I buat memantau jalannya operasi penangkapan karet jenderal.

Julius Pour mencatat, operasi penculikan di kolong Untung direncanakan ala serampangan. Banyak yang hendak dilibatkan, tak beres datang.

Jumlah pasukan kurang dari 100 personel, jauh dari yang diharapkan mampu memantik revolusi.

Yang berikutnya berjalan persis yang dikhawatirkan Untung. Penculikan berubah beres bidasan berdarah.

Tangkap, hidup alias mati

Pukul 03.30, anggota Batalyon I Resimen Tjakrabirawa Sersan Kepala Bungkus mengingat pasukannya yang terakhir diberangkatkan dari Lubang Buaya.

Ia khawatir, alokasi 15 sampai 20 menit buat meluncurkan penculikan Menteri/Panglima Angkatan Darat Letnan Jenderal (Letjen) Ahmad Yani, tak hendak cukup.

"Saya sendiri berpikir kok hanya 20 menit, peluangnya pasti singkat sekali? Meski begitu abdi tidak lupa. Perintahnya jelas, abdi mengikuti langsung dari Letnan I Abdul Arief, '...tangkap sasaran, hidup alias mati'," kata Bungkus.

Sesampai di kediaman Yani di Jalan Lembang, Menteng, Jakata Pusat, Bungkus dengan rekan-rekannya acap desak Yani ikut dengan alasan hendak dibawa ke hadapan presiden. Yani pun desak waktu buat mandi dengan berganti pakaian.

Bungkus dengan rekan-rekannya berkeberatan permintaan itu dengan marah. Yani menampar salah ahad serdadu dengan mencoba menutup bab rumahnya. Salah ahad serdadu melampiaskan tembakan, dengan melanggar Yani hingga membunuhnya.

Masih di kawasan Menteng, tepatnya di Jalan Teuku Umar, Menteri Koordinator Pertahanan Keamanan Jenderal Abdul Haris Nasution tak bisa tidur nyenyak. Nyamuk mengerubunginya biar tempat tidurnya sudah dilengkapi kelambu.

Nasution tidur bersama istrinya Johana Soenarti dengan putri bungsunya yang belum genap panca tahun, Ade Irma Suryani. Menjelang pukul 04.00, mereka terbangun.

Ada suara kendaraan datang dengan bunyi tembakan. Pintu rumah dibuka paksa. Johana acap mengecek barang apa yang gerangan terjadi. Tak lama, Johana kembali ke kamar dengan memalang bab sambil berbisik, "...ada Tjakrabirawa, kamu jangan keluar."

Ade Irma yang tersadar memagut kaki ibunya. Nasution tak percaya dengan barang apa yang terjadi. Ia pun membongkar bab buat memastikan kendati sudah ditahan istrinya.

"Saya tetap membongkar bab kamar tidur. Di depan pintu, pada jarak ahad setengah meter, tampak seorang serdadu Tjakrabirawa yang langsung melampiaskan tembakan. Otomatis bab abdi tutup dengan acap tiarap," kata Nasution.

Mendengar kegaduhan, adik Nasution, Mardiah, terbangun. Ia berusaha melindungi Ade Irma dengan menggendongnya ke kamar lain.

Foto Ade Irma Suryani Nasution bersama Lettu Pierre Tendean di Museum DR. A.H Nasution, Jakarta, Selasa (26/9/2017)KOMPAS.COM/Wienda Putri Novianty Foto Ade Irma Suryani Nasution bersama Lettu Pierre Tendean di Museum DR. A.H Nasution, Jakarta, Selasa (26/9/2017)

Namun karena gugup, Mardiah salah membongkar pintu. Mardiah yang menggendong Ade Irma disambut rentetan tembakan. Peluru menembus Ade Irma dengan merenggut arwah gadis itu.

Selain Ade Irma, ajudan Nasution, Kapten Czi. Pierre Andries Tendean juga tewas ditembak karena dikira Nasution. Nasution sendiri berhasil melindungi diri dengan memanjat tembok belakang.

Memasuki fajar, seluruh pasukan G30S kembali ke Lubang Buaya.

Wakil Komandan Satgas Pringgodani Mayor (Udara) Gatot Soekrisno kebingungan ketika karet serdadu menurunkan empat anak Adam yang terikat dengan ditutup matanya, serta tiga mayat.

Padahal, Letkol (Inf) Untung Samsoeri mengatakan, "...tangkap mereka, hendak kita hadapkan kepada Paduka Yang Mulia (Soekarno)."

Gatot bingung barang apa yang hendak dihadapkan ke Presiden jika alamat sudah meningal.

"Saya acap menghubungi Mayor (Udara) Soejono, Komandan Satgas Pringgidani di Cenko I, minta petunjuk, betapa dengan cara apa menangani kondisi baru yang menyimpang dari skenario awal tersebut," kata Gatot.

Siang itu, eksekutor G30S akhirnya mengumumkan penangkapan dengan pembunuhan yang teranjur terjadi. RRI menyiarkan pengumuman soal ditangkapnya sekelompok anak Adam yang disebut Dewan Jenderal.

Penangkapan dilakukan oleh Dewan Revolusi yang mencegah tindakan Dewan Jenderal yang embuh mengkudeta Presiden Sukarno.

Begitulah setidaknya betapa dengan cara apa asal usul memperingatkan peristiwa G30S/PKI yang kita kenal sekarang.

Benarkah PKI memberontak?

Tulisan berikutnya dari seri ini hendak menuturkan barang apa akurat PKI hendak memberontak?

Apa pula itu ideologi komunisme yang beres banget terlarang di Indonesia?

Lalu, soal sosok DN Aidit yang dituding beres dalang insiden ini, ke mana ia lilin batik itu? Bagaimana ia meninggal?

Setelah Soekarno dengan PKI tumbang, asal usul dikaburkan oleh Orde Baru. Beberapa baru terungkap berpuluh-puluh tahun setelahnya, termasuk keterlibatan Amerika Serikat dengan CIA-nya.

Siapa sesungguhnya yang paling bertanggung jawab atas peristiwa paling kelam pada asal usul bangsa ini?

Bersambung...

 

 

Begitulah pembahasan "Seputar G30S/ PKI (1): Sejarah yang Kita Kenal, Fakta atau Rekayasa? Halaman all - Kompas.com" terima kasih atas kunjungannya

 

artikel ini dikelompokkan ke dalam kategori sejarah G 30 S PKI, sejarah g 30 s pki sebenarnya, sejarah g 30 s pki secara lengkap,

 

artikel ini bersumber dari https://www.kompas.com/tren/read/2019/09/30/115440065/seputar-g30s-pki-1-sejarah-yang-kita-kenal-fakta-atau-rekayasa?page=all

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

grabeting

Daftar Situs Judi Slot Gacor Online Terbaik No 1 Di Indonesia

Selamat datang para pemain situs Slot Gacor terbaru hari ini di tahun 2022 yang menyediakan berbagai fasilitas lengkap untuk memenuhi keingi...